Excellent Leader Training (ELT) telah beberapa kali mengadakan training kepemimpinan berjejaring dengan Ibu Elizabeth Luzyana sebagai pembina dari Yayasan Tefila Indonesia. Pertengahan tahun 2010, selepas melakukan pelatihan, Pdt. Budi Utomo tiba-tiba berkata kepada Pdm. Anton Darmawan dan Pdm David Novandi, “Kita harus membangun sekolah di Kupang”. Kedua orang tersebut terkaget-kaget karena pada saat itu semuanya tidak memiliki bayangan samasekali soal perintisan sekolah, selain itu mereka juga tidak memiliki bayangan soal darimana dana yang akan digunakan untuk membangun sekolah. Beberapa saat kemudian Pdm. Anton Darmawan ditunjuk sebagai pemimpin proyek untuk pembangunan sekolah, yang kemudian memiliki payung hukum dengan nama Yayasan Pandhega Jaya.

Dengan sumber daya yang terbatas, Pdm. Anton Darmawan mengajak para pemuda yang tergabung dalam komunitas Saints Movement Community Church (SMCC) dan ELT untuk sama-sama merintis proyek pembangunan SMAKr. Pandhega Jaya. Pengurusan ijin pendirian yayasan, penghimpunan dana, pembelian tanah, sosialisasi, dan banyak pekerjaan lain dilakukan oleh anak-anak muda tanpa mendapat bayaran apapun. Tim yang bekerja keras semuanya memiliki hati bagi bangsa, berjuang demi masa depan bangsa yang lebih baik.

Sebuah peristiwa penting terjadi waktu Ibu Elisabeth Devi Dwi Dutavire dan suaminya, Bp. Hizkia Ade Kurniawan memutuskan mengabdikan diri sepenuhnya untuk SMAKr. Pandhega Jaya. Ibu Devi kemudian diangkat menjadi kepala sekolah, dibantu oleh Ibu Jeni Rodiani Mau dan Bp. Samuel Meha yang keduanya asli NTT mereka menyusun segala macam aspek akademis SMAKr. Pandhega Jaya sambil berkuliah S-2 (tingkat master). Bp. Hizkia kini bertanggung jawab untuk pengembangan unit bisnis di SMAKr. Pandhega Jaya.

Perlahan namun pasti, bangunan fisik SMAKr. Pandhega Jaya mulai berdiri bersamaan dengan aspek akademis yang sudah tersusun rapi, akhirnya pada bulan Maret 2014 SMAKr. Pandhega Jaya memulai proses penerimaan murid. Pada saat itu untuk mendapatkan murid bukanlah perkara mudah, faktor masyarakat yang belum dapat menilai sekolah ini menjadi pnghambat terbesar. Bukan sekolah yang dicari murid, tapi sekolah yang berusaha mencari murid, itulah keadaan awal perintisan sekolah ini. Akhirnya 22 murid menjadi angkatan pertama SMAKr. Pandhega Jaya.

SMAKr. Pandhega Jaya dengan kurikulum berbasis karakter Kristen dan konsep bagi hidup di asrama, membuktikan kepada masyarakat akan kualitas yang diberikan pada siswa-siswinya. Ketika murid-murid kembali ke kampung halaman masing-masing, orang tua dan lingkungan mereka sendiri yang merasakan bahwa terjadi perubahan karakter yang besar dalam diri para murid. Akibat dari hal tersebut, pada tahun kedua penerimaan murid baru, pendaftarnya begitu banyak, namun apa daya, kapasitas SMAKr. Pandhega Jaya sangat terbatas, hanya 25 siswa-siswi terbaik yang dapat masuk.

Kini SMAKr. Pandhega Jaya telah mendapat posisi yang serius dalam dunia pendidikan kota Kupang, pembangunan tahap selanjutnya pun harus segera dilakukan demi peningkatan pelayanan kepada siswa-siswi. Proses yang dilalui telah panjang, namun proses yang harus ditempuh demi mencetak pemimpin bangsa yang unggul juga masih panjang. Mari bergabung bersama kami, bahu-membahu demi masa depan Indonesia.