Tempat / Tanggal Lahir: Bandung, 19 Januari 1984

Riwayat Pendidikan:
SD Katolik Stella Maris Surabaya
SLTP Katolik Stella Maris Surabaya;
SMU Katolik Frateran Surabaya
S1-Sekolah Tinggi Teologi Injili Efrata

Jabatan :

  • Kepala sekolah
  • Guru Bidang Geografi Peminatan, Wirausaha Wajib dan Agama Kristen
  • Mentor
  • Mentor Ekstra kurikuler

NTT adalah tanah yang sangat indah. Orang- orangnya memiliki fisik yang kuat, berjiwa seni, dan rasa persaudaraan yang sangat tinggi. Anak- anak di sini terbiasa hidup di alam bebas yang indah dan kaya. Namun sayangnya kekayaan alam ini memanjakan mereka, sehingga mereka cenderung “santai”. Daya saing dan daya juang dalam berbagai bidang di NTT masih sangat kurang, kecuali dalam hal penampilan dan adat budaya. Belum lagi, korupsi yang sudah menjadi hal biasa, yang membuat kemajuan di berbagai bidang masih tertinggal, khususnya pendidikan dan ekonomi.

Jadi, yang dibutuhkan NTT bukanlah “ikan” atau sekedar “kail”, tapi membutuhkan “karakter” dan “skill” untuk menjadi “nelayan yang sukses”. Oleh karena itu, ketika Pandhega Jaya hadir sebagai wadah untuk mempersiapkan calon pemimpin yang cakap, berintegritas, penuh pengabdian, dan mencintai bangsa, tanpa ragu saya dan suami mengajukan diri untuk meninggalkan kenyamanan kami di Surabaya dan mengabdikan diri di NTT.

Saya percaya jika dengan membagikan “ikan” mungkin kita bisa memberi makan enam ribu orang, dengan membagikan “kail” kita bisa memberi makan enam ribu keluarga, tapi dengan melatih “karakter” dan “skill” tujuh puluh lima anak, masing-masing dari mereka bisa membagikan enam ribu “kail” bagi setiap keluarga. Hasilnya tujuh puluh lima kali lipat!

Membagikan “ikan” dan “kail” memang lebih mudah, namun melatih “skill” dan “karakter” membutuhkan usaha yang lebih keras.

Saya, Devi Dwi Dutavire, S.Pd.K, Kepala SMA Kristen Pandhega Jaya. Saya berani berkata, yang tentunya di-amin-kan oleh banyak orang, bahwa mengerjakan kehendak Tuhan – dengan segala jerih lelah dan pengorbanan yang ada – selalu sepadan dengan hasilnya.

Kami ada untuk mempersiapkan calon pemimpin yang cakap, berintegritas, penuh pengabdian, dan mencintai bangsa. Salam Pandhega Jaya!

DeviDutavirePandhegaJaya

Sumber: http://www2.jawapos.com/baca/artikel/21356/kelas-gratis-dari-mereka-yang-peduli

Kelas Gratis dari Mereka yang Peduli

Bisa Belajar lewat Mengajar

Pendidikan adalah hak setiap warga negara. Dengan ilmu dan keterampilan, masa depan bangsa yang lebih baik bisa dicapai. Turut serta dalam terwujudnya cita-cita mulia itu, sejumlah profesional turun langsung membagi ilmu yang mereka miliki, umumnya secara gratis.

ZAMAN sekarang, mengajar tidak hanya dilakukan para guru. Pekerja kantoran, mahasiswa, ataupun wirausaha bisa ikut membagi ilmu dan pengalaman bagi peserta didik. Biasanya, mereka bergabung dengan berbagai organisasi nirlaba yang memiliki fokus pendidikan. Meski nyaris tak mendapat imbalan, mereka mau mengabdikan diri demi meningkatkan kualitas pendidikan anak bangsa.

Salah seorang yang melakoni kegiatan itu adalah Vasilisa Agata. Perempuan yang pernah bekerja sebagai editor di salah satu perusahaan penerbitan tersebut kini turut serta dalam program Indonesia Mengajar. Ditugaskan di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Lisa –sapaan akrabnya– mengabdi dengan memberikan ilmunya bagi anak-anak di SD 06 Desa Jangkang, Kapuas Hulu. ’’Saya ingin turun langsung untuk memajukan pendidikan di Indonesia,’’ ujar alumnus Universitas Kristen Petra itu.

Selain merasakan kepuasan batin karena bisa berkontribusi terhadap pendidikan di Indonesia, Lisa mendapat pelajaran lain ketika membagi ilmunya. Dia menyadari bahwa pendidikan bukan hanya untuk karir, melainkan juga kesejahteraan masyarakat Kapuas Hulu pada masa mendatang. ’’Selain mereka yang belajar, saya juga belajar. Yakni, menahan ego bahwa kerja keras ini bukan untuk saya, namun untuk kesejahteraan mereka,’’ ujar Lisa.

Selain Lisa, ada pesinetron Meyda Safira yang bergabung dalam Kelas Inspirasi. Latar belakang pendidikan teknik lingkungan menjadi dasar bagi aktris sinetron itu untuk berbagi ilmu mengenai lingkungan di SDN Ciomas 1 Bogor. ’’Ternyata, buat mereka (anak-anak yang diajar), bidang teknik lingkungan itu masih baru, malah dikira bidang itu mirip tukang sampah,’’ tutur Meyda.

Namun, Meyda merasa tertantang untuk semakin mengenalkan ilmunya agar anak-anak bisa menjaga lingkungan. Saat mengajar, Meyda memperkenalkan diri sebagai engineer, sesuai dengan ilmu yang dipelajari. Namun, masih banyak yang menganggap dia sebagai aktris. ’’Tujuan saya adalah mengenalkan beragam profesi selain aktris, dokter, polisi, atau guru. Dengan demikian, mereka punya pengetahuan yang luas mengenai ragam ilmu dan profesi,’’ tambahnya.

Antusiasme anak-anak yang diajar membuat Meyda semakin bersemangat berbagi ilmu.

Lain halnya dengan Devi Dwi Dutavire. Perempuan yang awalnya bekerja sebagai staf perusahaan swasta itu kini bertugas mengajar di Kupang, NTT. Sebelumnya, Devi bergabung dengan sebuah lembaga nonprofit bernama Excellent Leader Training yang concern terhadap pendidikan untuk generasi muda. ’’Suatu ketika, lembaga itu ingin mendirikan sekolah di Kupang. Saya dipilih sebagai orang yang akan menjadi pengajar,’’ kata Devi.

Sebuah sekolah bernama SMAKr. Pandega Jaya pun didirikan. Devi terbebani dengan kenyataan bahwa para siswa memiliki sikap yang membuatnya geleng-geleng kepala. Ada yang suka kabur sekolah, berkelahi, dan berbagai kenakalan remaja lain. Budaya setempat yang kurang menghargai pendidikan juga menjadi tantangan bagi Devi. ’’Namun, saya merasa ada panggilan untuk melayani dan memberi yang terbaik bagi mereka di masa depan,’’ ujarnya mantap. Selain sebagai pengajar, Devi dipercaya menjadi kepala SMAKr. Pandega Jaya.

Organisasi nirlaba lain yang mengadakan kelas serupa adalah Akademi Berbagi (Akber). Akademi yang didirikan Ainun Chomsun pada 2010 tersebut berawal dari minimnya pendidikan seputar profesi. ’’Awalnya, saya nyari praktisi untuk keperluan pekerjaan. Banyak ketemunya di Twitter,’’ ungkapnya.

Pertemuan di media sosial tersebut menjadi titik mula berdirinya Akber. Para profesional di bidang-bidang seperti marketing, telekomunikasi, dan keuangan itu digandeng untuk memberikan materi.

Paparan tersebut dikemas dalam bentuk kelas maupun sounding dari media sosial atau radio. Sasaran mereka pun beragam, mulai jenjang SMP hingga mereka yang sudah bekerja. Ide tidak biasa tersebut menarik minat pengguna media sosial di luar Jakarta. ’’Mereka mengajukan pendirian Akber di kota mereka,’’ lanjut Ainun.

Mengutip data akademiberbagi.org, kini ada 23 akademi yang tersebar dari Sumatera hingga Sulawesi. Aktivitas mereka bisa dipantau lewat media sosial seperti Twitter, Instagram, dan Facebook. Bentuk kelas inspirasi yang lain adalah kelas mengajar yang digelar Save Street Child Surabaya (SSCS). Berbeda dengan organisasi lain, pengajaran dilakukan khusus untuk anak-anak yang kesehariannya sudah bekerja. ’’Ada kelas yang isinya pelajaran, etika, dan keterampilan,’’ kata Advin Mariyono, koordinator SSCS.

Advin mengungkapkan, mayoritas para pengajar merupakan mahasiswa dan pekerja. Mereka mengajarkan basic baca, tulis, dan berhitung (calistung) serta bidang sesuai bakat. Menurut alumnus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya tersebut, kelas minat bakat bisa amat beragam. Mulai bermusik, menggambar di beragam media, hingga berkreasi dengan bahan daur ulang. (len/fam/c19/ayi)