TAK SEBATAS PROFESI, TETAPI PELAYANAN YANG PROFESIONAL

Guru adalah salah satu profesi yang sering diibaratkan dengan dunia pendidikan secara menyeluruh, profesi guru dijadikan pemegang kendali roda perputaran pendidikan di negeri ini bahkan dunia. Sehingga tatkala dunia pendidikan merosot, guru seakan-akan menjadi dalil terpuruknya sebuah profesi yang diemban oleh guru, namun ketika hasil dari didikan guru baik, maka guru pun di sanjung-sanjung. Profesi guru adalah tugas yang mulia karena guru adalah motivator pengubah karakter peserta didik di masa yang akan datang dan akan terus beregenerasi dari zaman ke zaman, sehingga sederhananya karakter guru sebagai pendidik diikuti oleh kaum terdidik “GUguh dan ditiRU”. Profesi guru seharunya menjadi perubahan pendidikan untuk jangka panjang karena gurulah yang menjadi panutan  entah itu perilaku/sikap, cara berbicara, cara mengajar di depan kelas bahkan tingkah laku menyimpang sekalipun diikuti atau ditiru peserta didik.
Seringkali penilaian kinerja seorang guru hanya diukur lewat imbalan yang diterima. Namun faktanya tolak ukur berdasarkan jumlah uang yang diperoleh tidak bisa dijadikan landasan penilaian kinerja seorang guru. Jika hal ini dijadikan tolak ukur, maka guru hanya akan mengejar kuantitas jumlah uang yang diperoleh namun tidak berusaha meningkatkan kinerja agar anak didik semakin berkualitas. Memang secara manusia setiap kita membutuhkan uang, tetapi apakah imbalan yang diperoleh sudah sepadan dengan kinerja yang dikerjakan?
Menjalankan profesi guru berarti juga memberikan pelayanan, mengajar, mendidik, serta memberikan teladan dan motivasi. Untuk menjadi guru yang menjadi pelayan secara profesional, seorang guru tidak hanya sebatas mengajari siswa tetapi melayani dengan sepenuh hati, menyentuh mereka sebagai bapak dan anak bukan hanya sekedar guru dan murid, serta mampu memposisikan diri menjadi bagian dari keluarga terdekat yang menjadi tempat curahan hati mereka. Kondisi inilah yang seringkali saya alami di SMAKr. Pandhega Jaya. Menjadi profesional dalam berbagai segi dan nuansa adalah peran guru yang sebenarnya, melayani setiap siswa bukan semata-mata untuk manusia melainkan untuk Tuhan.
Seiring berjalannya waktu, hampir setahun saya mengabdi di sekolah ini. Banyak hal yang saya dapatkan dari rekan-rekan guru maupun peserta didik. Budaya yang dibangun di sekolah Pandhega jaya memberikan nuansa yang berbeda dibandingkan sekolah lainnya. Setiap kali saya sampai di pintu gerbang, sepertinya saya berada di lingkungan yang berbeda, berbudaya, penuh tata krama, tingkah laku yang sopan, bahkan sapaan yang berbeda dan ramah dari para guru dan siswa-siswinya.
SMAKr. Pandhega Jaya merupakan sekolah berasrama yang mendidik dengan profesional baik dalam kegiatan belajar mengajar, interaksi antar pihak baik guru dengan siswa, siswa dengan siswa, bahkan siswa dengan pengunjung atau pendatang yang bukan pengurus yayasan sekalipun. Namun terlepas dari itu semua, umur Pandhega Jaya masih berjalan 3 tahun, artinya kaum pendidik dan terdidik harus terus bergandengan tangan untuk menjadikan SMAKr. Pandhega Jaya sebagai sekolah dengan pendidikan karakter yang terus melahirkan pemimpinpemimpin baru yang mampu melayani dengan profesional sesuai dengan bidang ilmunya, untuk wilayah terkecil di desanya bahkan NTT secara khusus dan Indonesia pada umumnya.